Jumat, 02 Mei 2014

Hujan, dan kebahagiaan

hujan menggodaku untuk bangkit dan mengintip dibalik jendela kamarku, usaha hujan betul-betul berhasil membuatku merasa sedikit berbeda. semilir angin juga bersahabat menyapa wajahku dengan hembusannya. seperti inikah hujan? aku memandang keatas dan memperhatikan tetes-tetes air itu jatuh menyentuh tanah, seperti itukah hujan? menyejukkan tanah yang tadinya berdebu dan gersang, menyejukkan tumbuhan-tumbuhan layu yang tidak terawat berserakan di seluruh penjuru negeri.

sangat disayangkan, hujan hanyalah air! air yang mengalir, mengikuti arus dan pada akhirnya akan terjatuh dan berakhir di laut. sama seperti rasa yang ada, rasa yang berbeda, rasa yang hanya dimiliki oleh satu pihak tanpa dimengerti oleh orang yang sejak dulu dinanti. seperti itulah rasa, datang dan pergi begitu saja, hanya menyisakan kehangatan-kehangatan semu yang pada akhirnya akan mendatangkan sakit dan air mata. sama seperti tetes-tetes itu yang akan bercampur dengan air laut dan menjadi musuh pelaut yang perang dengan badai. meskipun begitu, hujan tetap turun, hujan tetap menjalankan kewajibannya menyejukkan tanah, tumbuhan, juga hati yang diam-diam sakit menunggu. seperti rasa yang akan terus datang bersemayam di hati insan yang peka dan percaya akan adanya rasa. meski sakit, tapi rasa itulah yang mengganggu, datang sendiri tanpa diundang, tanpa persetujuan.

tapi tidak selamanya hujan datang dan pergi begitu saja, tidak selamanya hujan pergi tanpa meninggalkan jejak-jejak yang bisa dirasakan setelahnya. setelah hujan akan ada pelangi, setelah semuanya pergi, rasa sakit itu berlalu, akan ada bahagia yang menjadi pelengkap kesakitan yang utuh. karena kesakitan dan kebahagiaan sebenarnya selalu berjalan beriringan, hanya saja terkadang kesakitan lebih egois untuk lebih pertama menyapa insan, dan kebahagiaan yang sangat mengerti dan akan selalu mengalah untuk kesakitan. dan saat kesakitan sampai di tempat tujuan juga kebahagiaan yang berhasil menyusulnya, maka disitulah ada hidup seutuhnya, kebahagiaan yang utuh, kebahagiaan yang akan menjadi bagian dari hidup itu sepenuhnya.

karena aku percaya rasa, sama seperti hujan...
sama seperti kesakitan dan kebahagiaan yang berjalan beriringan.

dari hatiku, yang beku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar