Kamis, 23 Oktober 2014

I thought it was the last 23

Ada masa dimana kita tidak bisa memilih, juga tidak bisa berbuat apa-apa. butuh waktu? iya! karena semuanya harus dipikirkan baik-baik. terlambatkah? atau memang semuanya hanya seperti ini, seperti ini? datang, kemudian pergi. pergi? dan yang tertinggal hanya rasa sakit yang tidak bisa dilukiskan dalam kanvas, atau dalam kertas berupa coretan tangan dengan makna. Cobaan lagi, yah sepertinya itu sudah menjadi agenda tuhan untukku, tapi dari sanalah aku belajar sesuatu, Kehilangan, yang benar-benar hilang.

semuanya berjalan baik sebelum kamu datang, baik sekali. aku memiliki semuanya yang kubutuhkan, semuanya yang mampu merangkulku sejenak dalam tawa, semuanya yang mampu memahamiku. sampai kemudian kamu datang? datang dengan alasan yang membuatku luluh. sebelumnya aku tidak pernah berpikir sejauh ini, merasa sejauh ini, juga merasa sakit sedalam ini. "Hidup itu indah, enjoy it!" Itu sloganku saat aku jatuh terpuruk, tapi entah mengapa slogan itu tidak mempan sekarang, sepertinya itu hanya sebuah kalimat sederhana dengan makna yang tinggi tanpa bisa kurasa seperti sebelumnya.

disinilah aku, duduk diantara jendela kamarku menghadap langit yang kian mendung. langit menghitam, menutupi bintang-bintang dengan warna yang sangat kelabu. ada sedikit sesak yang terasa, angka cantik 23 yang menggantung lirih dikalenderku sebentar lagi akan berlalu, yang kemudian digantikan oleh angka-angka lain yang sedikitpun aku tidak tertarik melihatnya, sebelumnya aku BIMBANG, bukan karena aku tidak cinta lagi? tapi karena kedatanganmu yang sangat cepat tanpa ada persetujuan denganku. kamu masa laluku, mengapa datang disaat-saat penting seperti ini? kamu datang dengan perhatian, datang dengan tujuan, tapi kamu pergi secepat aku kembali berpihak padamu, kalau saja aku tahu seperti ini? jangan datang! percuma, karena kamu tidak datang untuk tinggal, tapi mewariskan sisa-sisa sakit yang pernah kuberikan untukmu, beberapa waktu yang lalu dalam tahun-tahun yang kejam ini. Jangan pergi seperti ini? karena bukan kamu yang sakit, tapi orang lain? orang yang sangat mengenalmu, yang sangat tahu kamu. tapi sepertinya bukan itu maksudmu, aku tahu? aku peka, tapi terkadang sesuatu yang dipaksakan hasilnya akan terpaksa juga, aku hanya minta sedikit waktumu, tapi sepertinya aku terlambat. karena orang lain masuk dihidupmu sebelum aku, aku bisa apa sekarang? ikhlas? aku ikhlas, mau bagaimana lagi. kamu boleh pergi sekarang, lakukan semuanya yang bisa membuatmu merasa hidup, meskipun bukan aku disampingmu, aku akan belajar terbiasa dengan ini, kemudian akan kulakukan segala cara untuk menghilangkan sakitnya.

Dan pada akhirnya kekosongan itu akan terisi, terisi oleh nama-nama yang memberikan kesan yang baik, tapi sayang? namamu tidak disana, memang tempatmu bukan disana, tapi satu tempat lagi yang sampai sekarang masih kosong, itu tempatmu? tapi karena kamu pergi, mungkin akan kubiarkan kosong beberapa waktu lagi, aku hanya bisa menunggu. saat-saat seperti ini yang paling kurindukan adalah hujan, hujan yang mengalir, pelan tapi pasti. Terkadang aku berpikir hujan adalah obat hati yang paling mujarab, karena saat hujan turun? rasa sakit itu seperti ikut mengalir bersama material-material yang ikut pada aliran air hujan.

Memang saat ini hujan, hujan yang jatuh menetes di pori-pori kulitku, jatuh perlahan kemudian di ikuti sesak yang sangat menyakitkan, hujan itu kuberi nama "Air mata".
Sampai jumpa 23 , I will miss you.



Kamis, 21 Agustus 2014

Duniamu, mungkin bukan duniaku

semuanya berjalan indah sebelum dunia baru itu datang. dunia kebohongan, kemunafikan, kebodohan, juga semua dunia yang penuh janji dan tawa palsu. pasalnya, dibeberapa sumber, tidak ada bukti konkrit mengenai dunia yang telah disebutkan, tapi ada saja orang lain dari dunia itu yang masuk. berjalan beriringan dengan orang dari dunia tertentu, menggunakan topeng manis dengan sandiwara busuk yang yang mengatas namakan persahabatan. lucu sekali! banyak yang datang, sangat banyak. tapi yang bertahan hanya dua atau tiga orang, itupun berjalan dengan waktu yang tidak singkat.

dunia yang labil, atau isinya yang tidak konsisten? katanya kebahagiaan itu simpel, kumpul dengan keluarga harus dengan topik yang seru dan tidak lupa menyisipkan lelucon klasik yang tidak lucu. katanya, hidup itu kalo aku dan kamu satu, ayah dan ibu satu, kakak dan adik akrab, dan dua sahabat yang saling mengisi? apa benar? lucu! karena menurutku, hal itu 99,9 % isi dari dongeng sebelum tidur, cerita kuno yang pasti ending - nya bahagia, yang terbukti 0,00000001 % tidak ada di dunia nyata.

bagaimana tidak? ayah yang pergi, ibu yang ada tapi terasa tidak pernah ada, dan kakak yang punya dunianya sendiri tanpa memikirkan remaja yang beranjak dewasa ini. lucu! karena semua yang ada dirumah adalah semua yang tidak akan pernah ada untukku, semua yang tidak ingin kumiliki, semua yang menyeretku untuk ikut pura-pura bahagia di depan khalayak banyak, di depan saudara-saudaraku, sok tegar! tapi pada akhirnya tetap ketahuan nangis diam-diam. susah! sangat susah karena orang yang bicara, terus-terus bicara tanpa mau berhenti sejenak dan mendengarkan. yah seperti itulah, terus-terusan mau dimengerti tanpa sadar orang yang mendengarkan ingin dimengerti.

hidup itu singkat, harus dibuat nyaman sajalah. buat senyaman mungkin, sampai senyum ikhlas itu terpampang nyata dan tidak tergoyahkan. hidup itu bukan bagaimana saat kita di atas atau saat kita di bawah, tapi bagaimana cara kita menjalaninya. yup! mungkin seperti itulah hidup versiku. jadi dibuat nyaman aja kawan. jangan takut tertawa, karena tertawa itu mahal jika sedang sedih. fight!

Kamis, 14 Agustus 2014

Entah

pagi yang cerah, pagi yang mendung, pagi yang kelabu. apa bedanya? tetap saja berada di waktu yang sama, di pagi hari. lantas, apa yang kamu pikirkan tentang pagi ini? aku? sekolahmu? atau tentang perjalanan hidupmu yang katanya sangat membingungkan olehmu. kamu tetap sama, tetap ceria dikala kamu sedih, dan tetap diam saat kamu marah denganku.

aku mengenalmu lama, dan aku tahu apa yang tidak kamu suka ataupun kamu sukai. dua tahun bukan waktu yang singkat, kamu pernah bilang "waktu itu aneh! sama anehnya dengan kamu." kamu pernah menangis karena aku, dan itu kesalahan terbesarku. aku aneh? kamu yang aneh. bagaimana tidak? menggunakan baju seragam yang salah itu bukan aneh yah? atau lebih jago masak dari aku, setidaknya itu salah satu jenis keanehan versiku.

dua tahun sudah kita jalin hubungan rahasia ini, tanpa satupun orang yang tahu. aku nyaman? jangan tanya, karena nyamanku adalah kamu. aku sedih? tentu! sedih sekali saat tahu orang yang kucintai ini mulai berfikir untuk menjauh. sedih sekali, saat tahu orang yang kucintai ini memilih untuk tidak memilihku. memang harusnya aku yang tidak mengambil resiko waktu itu, seharusnya aku tahu akibatnya mencintaimu. bagaimana mungkin kita bisa bertahan, tanpa berpegang pada tiang yang sama? aku dengan hijab dikepalaku, dan kamu dengan salibmu. aku dengan al-quran ku, dan kamu dengan kitabmu. seharusnya aku sadar, seandainya saja waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan berada ditempat yang sama untuk menunggu seseorang yang akan menemukanku, menunggumu.

kamu memilih menjadi abdi di gerejamu, dan saat itu juga aku sadar, separuh aku akan hilang. aku harus terbiasa, membiasakan diri tanpamu. jangan paksa aku untuk melupakan, karena seperti katamu, "witing tresno jalaran soko kulino" cinta datang karena terbiasa, tapi bagaimana jika kebiasaan itu hadir secara tidak sengaja? kita sama, selau bersama. maaf saja, maaf! aku belum bisa menerima laki-laki lain, belum bisa melupakanmu untuk saat ini. maaf jika aku lancang, walaupun aku tidak sempurna, rasa sayangku sesempurna apa yang kamu pikirkan. maaf, aku masih cinta kamu.

Selasa, 06 Mei 2014

Yang spesial akan kalah sama yang selalu ada

cerita cinta klasik tentang kebahagiaan, penantian, pengharapan, angan-angan, juga bayangan-bayangan tentang masa depan cerah yang masih abu-abu. semuanya hampir menjadi bagian hidup yang serba hitam-putih, belum pasti mengarah kemana. waktu menjamah hidup kita, memberikan harapan untuk kita terus bangkit dan tetap melanjutkan hidup yang sesungguhnya, hidup yang keras, penuh politik duniawi yang sarat akan kebohongan.

bagaimana dengan persahabatan? sahabat yang katanya malaikat tanpa sayap, sosok yang akan selalu ada, akan selalu hadir diantara suka, juga duka yang mampir sebentar kemudian pergi lagi. sahabat yang katanya selamanya menjadi bagian dari diri kita, penentu kita kedepannya, yang menggenggam tangan kita, merangkul kita saat dijatuhkan oleh kenyataan yang memang selalu menyakitkan. sahabat, sahabat dalam kamus hati yang hanya ada dipikiran kita, hanya kita yang tahu, tidak dijual, dan tidak akan diketahui oleh siapapun. banyak yang mengatakan, "yang spesial akan kalah sama yang selalu ada" dan seperti itulah mereka, sahabat-sahabat kita, saudara-saudara kita, juga mereka yang selalu ada untuk kita, ibu dan bapak guru kita, dan yang terakhir, orang tua tercinta. karena hanya mereka yang memang akan ada untuk kita, kita yang menangis, yang terpukul, trauma dengan hidup, dan berpikir untuk berhenti disini saja, tanpa mencoba untuk kembali berjalan seperti sedia kala, hanya mereka.

bagaimana jika kita tidak memilikinya? bagaimana jika kita tidak mempercayai sosok yang bernama sahabat itu? karena makhluk sepertinya mungkin saja tidak diciptakan tuhan untuk kita, mungkin saja. tapi percaya atau tidak, ada banyak sosok seperti itu diluar sana, hanya saja kita terlalu takut untuk memberikan kepercayaan lebih kepadanya. sangat banyak, hanya saja kita terlalu lama berpikir dan tenggelam dalam pikiran kita masing-masing tanpa adanya usaha untuk menerima dan beradaptasi dengan dunianya juga. seperti itulah kita, terlalu banyak berpikir, tanpa dibarengi usaha yang seimbang.

hal yang perlu dilakukan, yaitu berusaha percaya! apa susahnya memberikan sekian persen rasa percaya kepada mereka. saatnya terbangun dari mimpi, keluar dari dunia kita masing-masing dan berusaha percaya, keluar dari nyamannya kita dan menatap dunia yang sesungguhnya, menatap dunia dengan senyuman tentunya.

karena diluar sana ada banyak sosok sepertinya,
sosok malaikat tanpa sayap, sosok yang tidak sempurna diluar sana,
sama seperti kita.

percayalah!

Minggu, 04 Mei 2014

Tentang Cinta

aku bisa mendengarnya, suara kesakitan dalam hatiku. aku sadar, ada ruang yang tidak terjamah disana, ruang yang entah akan selamanya kosong atau mungkin akan terisi suatu saat. aku hanya bisa menunggu, menunggu satu nama yang akan menjadi pelengkap ruang yang kosong dalam relungku.

mungkin sekarang belum waktunya, belum saatnya. memang pernah ada satu nama disana, satu nama yang bukan menjadi pelengkap, tapi malah menjadi jarum yang menusuk dan menyakitiku, pasalnya hanya aku yang merasakan, memendam dan tidak punya cukup keberanian untuk sekedar menatap wajahnya. itu dulu, dan sekarang aku berusaha lari dari kenyataan, bukan lari! tapi menghindari semua hal yang tidak kubutuhkan, aku menjauh, berusaha tegar, belajar menerima, dan sabar. walaupun begitu, aku telah melewati masa trauma berkepanjangan dan berusaha untuk percaya kembali kepada makhluk sepertinya.

ini mimpi buruk, rasa yang ada benar-benar membingungkan! yang ku ketahui hanya ada dua, yaitu sakit dan bahagia. ternyata itu salah, keduanya hanya mewakili ribuan rasa yang ada, mewakili benci, pilu, marah, sedih, bahagia, gunda, galau, dan banyak lagi yang tersisa. cinta datang karena cinta akan hadir pada waktunya, terserah kapan cinta menyentuh takdir tiap insan, karena cinta bukan paksaan, bukan status, melainkan kepercayaan dua anak manusia yang saling menjaga. teori tentang cinta juga sangat banyak, tapi sayang.. aku belum merasakan seperti apa itu cinta dalam dunia nyata.

karena bagiku cinta hanya ada didunia mereka yang bahagia,
cinta terlalu benci untuk menyentuh takdirku, terlalu menyiksaku,
membuatku bosan menunggu dan entah mungkin aku akan membenci cinta dan tidak percaya lagi dengannya
ataukah cinta mengajariku untuk bersabar? belajar melangkah sendiri untuk saat ini. entahlah.

ini tentang cinta, dan aku akan berusaha untuk percaya.

Sabtu, 03 Mei 2014

Mereka mengatakan saya BODOH !

jentikan jemari tanganku kembali beradu dengan keyboard komputer, juga tidak asing lagi bagi mataku memandang layar monitor sampai beberapa jam hanya untuk meluangkan sedikit waktu untuk menulis. seperti hari-hari biasanya, ada banyak tugas, masalah, juga konflik ekonomi yang tidak mengerti dengan keadaan. ada banyak paksaan oleh bapak juga ibu guru untuk menghapal rumus atom dan dalil phytagoras. hidup akan berjalan seperti ini selamanya, berlalu begitu saja tanpa pernah berbisik untuk memberikan semangat juang untuk hidup, tidak ada warna sama sekali. mungkin hal ini hanya aku yang merasakannya, atau mungkin ada orang lain yang lebih buruk lagi hidupnya dariku, entahlah. aku tidak ingin tau, dan tidak mau menambah pusing kepalaku.

senaif itukah aku? sangat egois. menyimpulkan sesuatu tanpa melihat sisi lain hidup, hanya terfokus pada satu perspektif kehidupan, dan itu sangat tidak adil bagi mereka-mereka yang lebih buruk hidupnya, aku betul-betul tidak bersyukur. kapan terakhir kali aku berdoa, memohon petunjuk dan kesabaran kepada tuhan, meminta ampun atas tiap jengkal dosa yang kubuat. aku hilang bentuk, kejiwaanku mulai terbelenggu oleh kehidupan manusiawi yang tidak kuketahui arah dan tujuannya. mereka bilang aku bodoh! apa yang salah denganku? rasanya aku tidak jauh berbeda dari mereka-mereka yang katanya hidupnya bahagia. aku putus asa, mereka memiliki pegangan dan mampu bertahan dalam genggaman. sedangkan aku? aku hanyalah manusia biasa yang tidak dianggap, tidak dipedulikan, dijahui dan tidak memiliki cukup teman, dan aku membenci hidupku.

jalanku masih panjang, hingga hatiku lelah mengembara. akhirnya kutemukan jawaban yang mampu membuka mata hatiku, menyadarkanku, dan mampu menyinari sudut gelap batinku. KEYAKINAN! dan keyakinan itulah yang membawaku mampu berdiri disini, tersenyum cerah, memandang segala sisi dari perspektif kehidupan yang ada. aku senang menjadi diri sendiri, mereka pernah mengatakan aku bodoh! aku sangat bersyukur. karena dengan kalimat yang "cantik" itu, aku mampu membuktikan bahwa aku adalah orang yang berkualitas dan mampu mensyukuri hidupku apa adanya.

karena mereka mengatakan saya BODOH!
terimakasih untuk itu.

Jumat, 02 Mei 2014

Hujan, dan kebahagiaan

hujan menggodaku untuk bangkit dan mengintip dibalik jendela kamarku, usaha hujan betul-betul berhasil membuatku merasa sedikit berbeda. semilir angin juga bersahabat menyapa wajahku dengan hembusannya. seperti inikah hujan? aku memandang keatas dan memperhatikan tetes-tetes air itu jatuh menyentuh tanah, seperti itukah hujan? menyejukkan tanah yang tadinya berdebu dan gersang, menyejukkan tumbuhan-tumbuhan layu yang tidak terawat berserakan di seluruh penjuru negeri.

sangat disayangkan, hujan hanyalah air! air yang mengalir, mengikuti arus dan pada akhirnya akan terjatuh dan berakhir di laut. sama seperti rasa yang ada, rasa yang berbeda, rasa yang hanya dimiliki oleh satu pihak tanpa dimengerti oleh orang yang sejak dulu dinanti. seperti itulah rasa, datang dan pergi begitu saja, hanya menyisakan kehangatan-kehangatan semu yang pada akhirnya akan mendatangkan sakit dan air mata. sama seperti tetes-tetes itu yang akan bercampur dengan air laut dan menjadi musuh pelaut yang perang dengan badai. meskipun begitu, hujan tetap turun, hujan tetap menjalankan kewajibannya menyejukkan tanah, tumbuhan, juga hati yang diam-diam sakit menunggu. seperti rasa yang akan terus datang bersemayam di hati insan yang peka dan percaya akan adanya rasa. meski sakit, tapi rasa itulah yang mengganggu, datang sendiri tanpa diundang, tanpa persetujuan.

tapi tidak selamanya hujan datang dan pergi begitu saja, tidak selamanya hujan pergi tanpa meninggalkan jejak-jejak yang bisa dirasakan setelahnya. setelah hujan akan ada pelangi, setelah semuanya pergi, rasa sakit itu berlalu, akan ada bahagia yang menjadi pelengkap kesakitan yang utuh. karena kesakitan dan kebahagiaan sebenarnya selalu berjalan beriringan, hanya saja terkadang kesakitan lebih egois untuk lebih pertama menyapa insan, dan kebahagiaan yang sangat mengerti dan akan selalu mengalah untuk kesakitan. dan saat kesakitan sampai di tempat tujuan juga kebahagiaan yang berhasil menyusulnya, maka disitulah ada hidup seutuhnya, kebahagiaan yang utuh, kebahagiaan yang akan menjadi bagian dari hidup itu sepenuhnya.

karena aku percaya rasa, sama seperti hujan...
sama seperti kesakitan dan kebahagiaan yang berjalan beriringan.

dari hatiku, yang beku.